<body>
MIFTAHUL FALAH
ASSUBKIYYAH
Pondok Pesantren Salaf Miftahul Falah Assubkiyyah
majlis
belajar ilmu dan akhlak
MFA
Pondok Pesantren Miftahul Falah Assubkiyyah didirikan pada tahun 1985 oleh Ustdz. Hj. Iyoh Fatimatuzzahro bertempat di Jalan Raya Cifor Pilar II Rt. 03/02 No. 14 Kelurahan Bubulak Kecamatan Bogor Barat. Atas amanat dari ayahandanya KH. Ahmad Satibi Bin Mama KH. Subki yang lebih dikenal dengan sebutan Akang Eben.
Dengan semangat dakwah dan motivasi yang kuat dari orangtuanya yang didukung juga oleh masyarakat setempat akhirnya didirikan majlis diatas tanah wakaf Mbah. H. Zakaria (sesepuh bubulak, kakek hj. iyoh)
Awalnya majlis kami ini bernama Miftahul Falah Al-Afandiyyah, nama yang diambil dari sebuah pondok pesantren di Barengkok Leuwiliang asuhan Hj. Sukarsih (guru dari Hj. Iyoh). Dan nama Afandiyyah diambil dari guru Hj. Sukarsih yaitu Mama. KH. Affandi.
Bergantinya nama belakang Al-Affandi dengan Assubkiyyah, tidak lain karena tafa`ulan dengan kakek beliau yaitu Mama KH. Subki Bubulak.
Blogroll
Link blog yang lainnya
MTs. Yasiba
habib abdurrahman assegaf,Lc -setu-
habaib
habib munzir almusawa
habib hasan assegaf
rabithah
NU
fatayat
kitab kuning
pesantren virtual

guru
Al-asatizah
KH. Aceng Saefuddin
Ustdj. Hj. Iyoh Fatimatuzzahro
Ust. Asep Dimyati, SPd.I
Aa. H. Abdul Wadud
<.
Artikel singkat tentang Ahmadiyyah
20 Januari 200911:45 AM
MIRZA GHULAM AHMAD – AHMADIYYAH


Orang Ahmadiyyah sering sekali memanggilnya dengan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, sedang nama aslinya adalah Ghulam Ahmad. Sedangkan “Hazrat” adalah kata penghormatan dari para pengikutnya. Kata “Mirza” melambangkan keturunan bangsawan dari Moghul.
Hazrat Ahmad adalah keturunan Haji Barlas, raja kawasan Qesh, yang merupakan paman Amir Tughlak Temur. Tatkala Amir Temur menyerang Qesh, Haji Barlas sekeluarga terpaksa melarikan diri ke Khorasan dan Samarkand, dan mulai menetap disana. Tetapi pada abad ke 10 Hijriah atau abad ke 16 Masehi, seorang keturunan Haji Barlas bernama Mirza Hadi Beg beserta 200 orang pengikutnya hijrah dari Khorasan ke India karena beberapa hal, dan tinggal dikawasan sungai Bias dengan mendirikan sebuah nama perkampungan bernama Islampur, 9 km jauhnya dari sungai tersebut.
Mirza Ghulam Ahmad lahir di Punjab India pada 13 Februari 1835M atau 14 Syawwal 1250H, pada waktu sholat subuh hari jum`at dirumah Mirza Ghulam Murtaza di desa Qadian. Ia lahir dalam sebuah keluarga berkecukupan sebagai bayi kembar, namun kembarannya meninggal saat lahir.
Mirza disaat kecilnya banyak menghabiskan waktunya di masjid dengan mempelajari AlQur`an dan pelajaran agama, hal itu tidak sesuai dengan kemauan ayahnya yang ingin agar dia menjadi seorang pengacara atau seorang pegawai negeri. Dalam mempelajari hal-hal keagamaan dia selalu berinteraksi dengan banyak orang islam, dan dengan misionaris kristen yang selalu diajaknya berdiskusi.
Ketika Ahmad berumur 40 tahun ayahnya wafat. Waktu itu Ahmad mengaku bahwa Tuhan telah berkomunikasi dengannya melalui wahyu. Sejak saat itu Ahmad banyak menulis untuk melawan apa yang menurutnya sebagai tulisan-tulisan anti Islam dari berbagai kelompok misionaris kristen. Dia juga fokus dalam melawan berbagai dampak yang dilakukan oleh kelompok-kelompok seperti Brahma Samaj. Selama periode ini dia sangat diterima oleh berbagai golongan Islam yang ada saat itu.
Banyak orang yang celaka muncul dimuka bumi karena mencela para rasul, tetapi tidak banyak sekaliber Mirza Ghulam Ahmad dan para pengikutnya. Dia mengklaim sebagai nabi dan rasul seperti yang dilakukan oleh Musailamah dan Al-Aswad An-Ansi. Langkah berikutnya ia mengaku sebagai orang yang paling utama dari seluruh nabi dan rasul. Sebagaimana ia menyatakan dirinya telah dianugerahi segala yang telah diberikan kepada seluruh nabi (Durr Tsamin, hal. 287-288, karya Ghulam Ahmad). Dalam pernyataan yang lain ia mengatakan, sesungguhnya Nabi Muhammad mempunyai tiga ribu mukjizat saja sedangkan aku mempunya mukjizat lebih dari satu juta jenis, kata Ghulam Ahmad (Tadzkirah Asy-Syahadatain, hal.72, karya Ghulam Ahmad). Perkataan seperti ini jelas merupakan salah satu trik untuk merendahkan kedudukan Nabi Muhammad SAW.
Mirza Ghulam Ahmad juga pernah berkomentar tentang Nabi Isa: “Sesungguhnya Isa tidak mampu mengatakan dirinya sebagai orang shalih. Sebab orang-orang mengetahui kalau dia suka minim-minuman keras dan perilakunya tidak baik”. (Hasyiyah Sitt Bahin, hal. 172, karya Ghulam Ahmad). Komentar miring lain menurutnya Isa cenderung menyukai para pelacur, karenanya nenek-neneknya adalah termasuk pelacur (Dhamimah Anjam Atsim, Hasyiyah, hal. 7, karya Ghulam Ahmad).
Tentang sahabat Nabi Abu Hurairah, Ghulam Ahmad mengatakan: “Abu Hurairah orang yang dungu. Dia tidak memiliki pemahaman yang lurus” (I`jaz Ahmadi, hal.40). perhatikan! Padahal ia sendirilah orang yang dungu lagi bodoh. Lihat pengakuannya: “Sesungguhnya ingatanku sangat buruk. Aku lupa orang-orang yang sering menemuiku”. (Maktubat Ahmadiyah, hal. 21)
Tidak sedikit para ulama yang menentang dan berusaha menasehati Mirza Ghulam Ahmad agar ia bertaubat dan menghetikan dakwahnya, namun usaha itu tidak membuat pemimpin Ahmadiyah ini surut dalam menyebarkan dakwahnya.
Syeikh Tsanaullah, salah satu diantara sekian banyak ulama yang berusaha keras menentang dan menasehatinya. Merasa terganggu dengan usaha Syeikh Tsanaullah tersebut, Mirza Ghulam Ahmad mengirimkan surat kepada Syeikh Tsanaullah yang berisi tentang keyakinan hatinya bahwa ia adalah seorang nabi, bukan pendusta, bukan pula dajjal sebagaimana julukan yang diarahkan kepadanya oleh para ulama. Ia juga mengatakan bahwa sesungguhnya yang mendustakan kenabiannya itulah pendusta yang sesungguhnya.
Di akhir suratnya itu, ia berdo`a dengan mengatakan, “Wahai Allah yang maha mengetahui rahasia-rahasia yang tersimpan dalam hati. Jika aku seorang pendusta, pelaku kerusakan dalam pandangan-Mu, suka membuat kedustaan atas nama-Mu pada siang dan malam hari, maka binasakanlah aku saat Tsanaullah masih hidup, dan berilah kegembiraan kepada para pengikutnya dengan sebab kematianku. Wahai Allah, jika aku benar sedangkan Tsanaullah berada diatas kebathilan, pendusta pada tuduhan yang diarahkan kepadaku, maka binasakanlah dia dengan penyakit ganas, seperti tho`un, kolera atau penyakit lainnya, saat aku masih hidup. Amien”.
Sebuah do`a mubahalah yang dipinta Mirza Ghulam Ahmad. Dan ternyata Allah SWT mendengar do`a tersebut, setelah 13 bulan lebih 10 hari do`a tersebut, yakni pada tanggal 26 Mei 1908 Mirza Ghulam Ahmad dibinasakan oleh Allah SWT dengan penyakit kolera. Sementara itu Syeikh Tsanaullah masih hidup sekitar 40 tahun setelah kematian Mirza Ghulam Ahmad.
kembali ke halaman atas